Eka Putra Zakran Sesalkan Penangkapan Muazzin Masjid.

Share it:


Medan, JournalisNews.com -
Praktisi Hukum Kota Medan, Eka Putra Zakran menyesalkan aksi aparat hukum yang tidak profesional dalam menjalankan tugasnya terkait pengamanan terhadap Eka Rahmadani,  Muazzin Masjid Muhsin Labuhan Batu Sumatera Utara yang ditangkap hanya gara-gara meminta panitia HUT Labuhan Batu mengecilkan suara musik pada saat adzan Zuhur berkumandang. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 18/1/2021.

Indonesia ini negara hukum, disamping itu kebebasan beribadah dan beragama diatur serta dilindungi oleh undang-undang dasar dan merupakan Hak Manusia Anusia yang harus dihormati oleh setiap orang.

Tindakan Panitia HUT Labuhan Batu yang tidak mengindahkan teguran atau permintaan muazzin untuk mengecilkan suara musik pada saat azan berkumandang dimasjid sudah jelas merupakan perbuatan tercela dan pengangkangan terhadap nilai-nilai toleransi dan kebebasan beragama yang wajib dihormati. Sementara jarak antara lokasi acara HUT dengan Masjid hanya sekitar 20 meter, itukan jarak yang sangat dekat sekali.

UUD 1945 Pasal 29 Ayat (2) menegaskan: "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama". Sayangnya, ketegasan dimaksud sering absen dalam banyak peristiwa di negeri ini.

Siapa yang tidak kesal melihat acara seperti ini, disaat akan dilaksanakannya shalat zuhur, suara musik panitia masih terdengar keras, artinya disini tidak ada saling menghargai khuusus terhadap umat Islam yang mau menjalankan ibadah shalat. Secara agama, secara sosial dan secara UU atau pun HAM sudah tepat langkah yang dilakuakan oleh Eka Rahmadani selaku Muazzin memperingat panitia itu.

Makanya yang lebih kesalnya kita, orang tidak bersalah ditangkap oleh aparat hukum dengan menjepitnya seperti bandar narkoba saja ah. Masa menangkap muazzin Masjid main bekuk seperti itu ah. Hemat saya cara menangkap dengan menjepit leher seperti itu kepada Muazzin Masjid jelas melanggar SOP dan HAM. Hal semacam ini menunjukkan aparat tidak profesional.donesia ini negara hukum, disamping itu kebebasan beribadah dan beragama diatur serta dilindungi oleh undang-undang dasar dan merupakan Hak Manusia Anusia yang harus dihormati oleh setiap orang.

Tindakan Panitia HUT Labuhan Batu yang tidak mengindahkan teguran atau permintaan muazzin untuk mengecilkan suara musik pada saat azan berkumandang dimasjid sudah jelas merupakan perbuatan tercela dan pengangkangan terhadap nilai-nilai toleransi dan kebebasan beragama yang wajib dihormati. Sementara jarak antara lokasi acara HUT dengan Masjid hanya sekitar 20 meter, itukan jarak yang sangat dekat sekali.

UUD 1945 Pasal 29 Ayat (2) menegaskan: "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama". Sayangnya, ketegasan dimaksud sering absen dalam banyak peristiwa di negeri ini.


Siapa yang tidak kesal melihat acara seperti ini, disaat akan dilaksanakannya shalat zuhur, suara musik panitia masih terdengar keras, artinya disini tidak ada saling menghargai khuusus terhadap umat Islam yang mau menjalankan ibadah shalat. Secara agama, secara sosial dan secara UU atau pun HAM sudah tepat langkah yang dilakuakan oleh Eka Rahmadani selaku Muazzin memperingat panitia itu.

Makanya yang lebih kesalnya kita, orang tidak bersalah ditangkap oleh aparat hukum dengan menjepitnya seperti bandar narkoba saja ah. Masa menangkap muazzin Masjid main bekuk seperti itu ah. Hemat saya cara menangkap dengan menjepit leher seperti itu kepada Muazzin Masjid jelas melanggar SOP dan HAM. Hal semacam ini menunjukkan aparat tidak profesional.


(Abd Halil/Epza)

Share it:

Medan

Post A Comment:

0 comments: