Kogabwilhan III Sebut KKB Pakai Taktik Licik dan Korbankan Warga Sipil

Share it:


Papua, JornalisNews.com –
Kelompok kriminal bersenjata di Papua menerapkan taktik licik dan mengorbankan warga sipil dalam rangkaian kekerasan brutal yang mereka lancarkan.


Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III TNI Kolonel Czi IGN Suriastawa mengatakan, rangkaian kekerasan gerombolan bersenjata itu semakin brutal dan gelap mata. Tidak lagi memperhatikan siapa yang menjadi korban termasuk warga sipil. ”Hal ini sangat disesalkan karena ini berarti pelanggaran terhadap HAM dan nilai-nilai kemanusiaan. Masyarakat sipil adalah pihak yang perlu dilindungi semua pihak,” kata Suriastawa seperti dilansir dari Antara, dikutip dari laman JawaPos.com.

Sama seperti serangan-serangan sebelumnya, serangan gerombolan bersenjata terjadi lagi. Kali ini terhadap Pos TNI, pada Sabtu (10/10), di Kampung Koteka, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, yang diduga untuk memprovokasi personel-personel TNI agar membalas tembakan. Namun, personel TNI bertindak profesional dengan cara tetap siaga dalam kedudukan pertahanannya dan terus mengintai arah datang tembakan.

”Personel TNI akan membalas tembakan secara terbidik bila anggota gerombolan bersenjata yang menyerang telah teridentifikasi secara pasti untuk menghindari jatuhnya korban warga sipil di sekitar tempat kejadian. Hal ini juga dilakukan personel TNI lain yang bertugas di setiap tempat di Papua,” ujar Suriastawa.

Menurut dia, ada fenomena menarik dari taktik kelompok sipil bersenjata akhir-akhir ini dengan berusaha memprovokasi TNI-Polri di setiap tempat, waktu, dan kesempatan. Mereka menyerang di tengah-tengah keramaian warga sipil. Kelompok kriminal bersenjata itu berharap agar personel TNI-Polri membalas tembakan sehingga bila jatuh korban warga sipil akan menjadi bahan fitnah dan berita bohong dari mereka bahwa para korban dibunuh personel TNI. ”Sepertinya cara ini merupakan pesanan dari pendukung mereka di luar negeri yang selalu berbicara tentang pelanggaran HAM,” terang Suriastawa. 

Mereka, kata dia, memerlukan bahan untuk memojokkan pemerintah Indonesia di forum internasional padahal ternyata merekalah pelakunya. Sudah beberapa kali kesempatan terbukti bahwa kelompok bersenjata dan pendukungnya selalu memutarbalikkan fakta kejadian.

”Mereka tidak berkomentar bila korban yang terbukti mereka bunuh adalah warga sipil, baik orang asli Papua maupun pendatang. Ini bukti bahwa merekalah pelanggar HAM yang sebenarnya,” ucap Suriastawa.

Setelah gagal mendapat perhatian dari Sidang Umum PBB pada 22–29 September, kelompok separatis bersenjata di Papua semakin beringas dan membabi buta menyerang aparat negara dan warga sipil untuk menunjukkan keberadaannya yang semakin diabaikan masyarakat. Cara yang digunakan antara lain memprovokasi, meneror, mengorbankan masyarakat sipil kemudian memfitnah aparat TNI-Polri yang bertugas menjaga keamanan dan kedamaian di Papua. ”Tujuannya adalah agar masyarakat setempat tertekan dan terpaksa mendukung mereka serta mendapatkan perhatian dunia,” papar Suriastawa.

Serangan gerombolan bersenjata di Papua terhadap aparat negara dan warga sipil beberapa bulan terakhir makin mengganas. Dimulai dari penembakan terhadap dua tenaga kesehatan penanganan Covid-19, yakni Almanek Bagau (luka tembak) dan Heniko Somau (tewas di tempat), pada Jumat, 22 Mei, di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya. Sejak tanggal itu hingga kini, tercatat gerombolan bersenjata itu telah menewaskan paling tidak 11 orang, terdiri atas dua personel TNI AD dan sembilan warga sipil.

”Mereka juga telah melukai secara serius seorang tentara dan seorang warga sipil anggota TGPF Intan Jaya,” ujar Suriastawa.(red)
Share it:

Post A Comment:

0 comments: